Minggu, 10 Februari 2019


BERSYUKUR SETIAP SAAT
Namaku:  Miftakhul Jannah
No peserta ku:

Dari begitu bangun pagi di kamar lantai atas sampai turun ke lantai bawah, sudah berapa kali saya mengucapkan terima kasih dan bersyukur? Mungkin sudah sampai lima kali sampai tujuh kali. Dalam satu hari? Berapa kali saya berterima kasih dan bersyukur di dalam hati? Berapa kali saya mengucapkan dengan lantang bersuara dengan orang lain? Mungkin bisa 50 sampai 100 kali, bias jadi lebih, karena saya tidak hitung.
Tidak praktis kedengarannya? Kok ya aneh mengucapkan terima kasih sampai puluhan kali dan satu hari? Bahkan ratusan kali? Jawabannya mudah saja: dengan berterima kasih dan bersyukur, kita selalu mencari sisi positif dari segala sesuatu. Dan mencari sisi positif, maka diri kita menjadi semakin positif dalam melihat segala sesuatu. Pasti tidak ada putih setitik di dalam putih bersih.
Dengan selalu mengimgat kelimpahan kita, otak kita mencetak keyakinan (belive) bahwa memng benar kitya hidup dalam kelimpahan.  Maka , semua perbuatan kita dasari oleh keyakinan ini, termasuk persepsi kita sebagai  personofikasi dari sukses. Lantas, sampai kapan perlu mengucapkan terima kasih dan bersyukur berpuluh-puluh kali tersebut? Sepanjang hayat.
Ah tidak praktis, mungkin ada yang berpendapat demikian. Sekali lagi bahwa ini tidak mengajarkan untuk sukses dalam semalam.,namun dalm mengubah mindset (pola pikir) maka segala faktor eksternal yang sering menjadi atribut orang sukses akan dating dengan sendirinya bagaikan arus sungai.
Berterima kasih dan bersyukur toh tidak memerlukan modal uang maupun sumber daya apa pun. Intinya hanya satu, yaitu kemauan keras untuk mengubah diri. Jangan pikirkan “pahala” yang Anda dapat dari perbuatan ini dulu. Jangan pula mengharap nasib akan berubah dalam sekejap. Yang jelas, dengan mengucap[ terima kasih kepada orang lain tanpa ada rasa keterpaksaan dan rasa canggung saja sudah merupakan jembatan kita ke dalam hati orang lain.
“Terima kasih”  tidak akan pernah di tolak oleh orang lain, malah boasanya disambut oleh senyum lebar dan hati yang sedikit lebih lembut dari pada sebelumnya. Ini saja sudah merupakan magnit yang bias membantu kita semua  dalam memproyeksi diri yang sukses ke luar. Jadi, jika ada keragu-raguan dan ke-engganan untuk berterima kasih dan bersyukur dalam skala dan frekuensi luar biasa, maka sebaiknya Anda urungkan niat Anda untuk menjadi personifikasi dari sukses itu sendiri. Aammiiin…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar